Dulu ketika berhadapan dengan bumil2 subjek penelitian tesisku yang sedang menunggu HPL (Hari Perkiraan Lahir), bisa2nya aku dengan sangat tenang mengajak mereka untuk membahas dampak stress terhadap kehamilan dan kemudian melakukan relaksasi dan sebagainya. Ternyata pas gilirannya aku yang hamil malah aku yang lebih stress dari mereka… *malu sama tesis*
Saat ini aku sibuk ‘menolong’ para orang tua yang memiliki ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) untuk bersama2 mencari solusi bagaimana mengoptimalkan fungsi kognitif, emosi, dan sosial putra-putri mereka. Kebayang kan pekerjaanku seperti apa? Kebayang juga kan klien2 yang kuhadapi? Paham kan maksudku ABK itu seperti apa??? Daaaaaan situasi ini benar2 tidak ‘ideal’ untuk orang yang pada dasarnya memang pencemas seperti aku (lagi bunting pula!). Ya, profesiku ini memang menuntutku untuk menjadi ‘penolong’. Itu jugalah yang membuatku bertanya-tanya, mampukah aku menolong diriku sendiri…? Mampukah aku menolong anakku nantinya…? Tapi ada quote menarik dari suamiku yang menjawab pertanyaanku tentang ini,
“Saat kita banyak menolong orang lain hingga tidak punya tenaga lagi untuk menolong diri sendiri dan keluarga, maka Tuhan-lah yang menolong kita.”
Aaahhhh…………. legaaaaa rasanya kalau sudah mendengar suamiku ngomong begitu… *tapi entah kenapa masih suka cemas*



