Belakangan ini ternyata lagi heboh2nya pembentukan klub poligami. Itu tuuuhhh… kumpulan orang2 yang menikahi lebih dari satu orang pasangan hidup (umumnnya suami2 yang punya istri lebih dari satu). Banyak sekali alasan yang disuarakan untuk ‘mendukung’ pembentukan klub ini. Mulai dari ayat2 al Quran sampai ke rasio kependudukan. Bahkan seorang temanku berkata seperti ini (dan itu sempat membuatku naik darah sampai ke ubun2):
“Poligami yang sesuai aturan ya gak bakal ada KDRT. Kalau dibilang hanya untuk menuruti nafsu lelaki saya kira kurang tepat..tergantung orangnya.. menurutku poligami adalah solusi. Coba bayangkan setiap manusia pasti ada kebutuhan biologis terhadap lawan jenis.. apalagi wanita katanya nafsunya lebih besar katimbang lelaki.. tapi lihat sekarang faktanya, wanita lebih banyak katimbang lelaki… kalo gak salah 1:3. nah kalo gak boleh poligami yang 2 bagian itu bagaimana… secara naluriah pengen disalurkan. Karena tak ada jalur resmi maka banyak terjadi perselingkuhan, prostitusi… Bagiku orang yang menolak poligami berarti lebih mendukung kepada prostitusi dan perselingkuhan…”
Wuah, apa gak pitam tiada tara aku dibuatnya. Untung aku gak misuh2, hehehe…
Sebenarnya menarik sekali data yang beliau sampaikan, yaitu “wanita lebih banyak katimbang lelaki..kalo gak salah 1:3″. Bukan ingin mengajukan perlawanan atau apa, tapi aku ingin sedikit meluruskan pandangan tentang rasio jumlah penduduk. Tahun 2005, jumlah penduduk Indonesia adalah 218.086.288 jiwa. Komposisi penduduknya adalah 109.613.519 laki-laki dan 108.472.769 perempuan. Secara umum penduduk Indonesia SEIMBANG antara laki2 dan perempuan, namun SEDIKIT LEBIH BANYAK penduduk LAKI-LAKI dibandingkan PEREMPUAN.
Berlanjut ke jumlah penduduk yang termasuk ke dalam usia produktif (15-65 tahun), ada 72.151.865 orang laki-laki dan 72.285.694 perempuan. Itu data tahun 2005. Tahun 2007, berdasarkan data kependudukan Indonesia yang dikelola oleh Pusat Studi Kependudukan UGM, meskipun jumlahnya sudah berbeda (aku gak ingat detilnya), tapi perbandingannya secara umum dan kontekstual masih sama, yaitu SEIMBANG, dengan proporsi penduduk perempuan yang SEDIKIT LEBIH BANYAK. Usia produktif adalah usia di mana UMUMNYA manusia melangsungkan pernikahan, termasuk melakukan poligami.
Aku bukan orang yang menentang atau antipoligami. Aku YAKIN SEYAKIN-YAKINNYA bahwa poligami dibenarkan oleh Islam dan aku tidak berhak menentangnya. Dari yg pernah kupelajari, poligami adalah SUNNAH bagi lelaki yang MAMPU BERLAKU ADIL, dan HARAM jika tidak dapat berlaku adil. Kemudian dalam konteks ‘muslim‘, pernikahan dibenarkan bagi sesama muslim DAN nonmuslim yang merupakan ahli kitab. Nonmuslim ahli kitab adalah Yahudi atau nasrani keturunan bani Israil, dan masyarakat Yahudi dan nasrani Indonesia BUKAN termasuk keturunan bani Israil. Aku tidak tau pasti rasio penduduk berdasarkan agama, tapi ini tidak begitu penting karena toh banyak yang pindah agama dengan mudahnya.
Nah, kembali ke data. Aku rasa kurang tepat jika ada yang menggunakan alasan perbandingan penduduk untuk ‘menjustifikasi’ tindakan poligami. Kemudian juga pernyataan bahwa “menolak poligami berarti lebih mendukung kepada prostitusi dan perselingkuhan…”, itu menurutku merupakan KESIMPULAN YANG SANGAT JAUUUUUUUUUUUHHHHHHHHHH MELOMPAT. Tapi sungguh, tidak sedikit yang berpikiran seperti pernyataan tadi.
Aku menghormati siapapun yang ingin melakukan poligami, untuk alasan APAPUN yang tentunya masuk akal. Tapi saya tidak bisa terima kalau alasan itu hanyalah sebatas rasio kependudukan ataupun dalil2 Islami. Di beberapa negara dengan penduduk muslim yang cukup dominan (seperti Tunisia, Turki, Pakistan, Irak jaman Saddam Husain, dan Siria), peraturan poligami sangat ketat sehingga jika ada pelanggaran dan kerugian dari salah satu pihak istri, pelaku poligami dapat dikenai pasal2 hukum (yg ini sangat berbeda lah dgn di Indonesia).
Sebenarnya aku membenarkan poligami yang sesuai tuntunan. Jadi janganlah hanya dengan berbekal satu ayat, poligami lantas dianggap seakan2 ‘wajib’. Sunah sekalipun jika dilakukan dengan tidak benar, maka imbalannya adalah DOSA. Oya satu lagi, jangan lupa: KHADIJAH TIDAK PERNAH MERASAKAN DIPOLIGAMI.
Wassalam

btul!
&Rasul masih segitunya sm Khadijah smp akhir hayat…
Rasul-pun mempoligami ‘nenek”‘ yg dah ga mnarik lagi physically… demi tujuan mempersatukan Islam…
bukan nafsu belaka…
Nek bisa ky Rasul monggo poligami…
Hidup Poliandri! *loh*
Hiduuuubbbb!!!
mantab Widz..!!
satu lagi, jangan sampai termakan media yang memecah belah umat dengan masalah poligami ini..
Ahahahaaaa… teh Ninih???
gmana cara bikin quote box itu??
satu aja blm dah mikirin poligami… ck ck ck
Iya nih…