Masalah yang ada di antara kami tidak sesederhana yang orang2 bayangkan.
Kami berbeda sudut pandang. Kami melihat sesuatu dari sisi yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Itulah yang sering membuat kami berselisih paham.
Aku tidak tahan dengan beberapa sikapnya. Menurutku dia terlalu banyak rahasia, tidak terencana, dan dalam beberapa hal kuanggap dia terlalu membatasi ruang gerakku.
Aku tau, dia pun cukup jengah dengan beberapa sifatku. Aku orang yang keras kepala, bahkan dalam beberapa hal mungkin terlalu berambisi. Aku pun bukan orang yang dengan mudah bisa dia ‘disiplin’-kan. Oya satu lagi, kurasa aku membuat target usia menikah yang agak memberatkannya (dalam artian terlalu cepat).
Terlihat jelas bukan…? Kami seperti air dan api. Tapi sebenarnya semua terasa baik2 saja di masa2 awal perjalanan kami.
Ya… makin lama kedua kutub yang sama kuatnya pun mulai terasa saling tolak-menolak.
Aq terbiasa berdiri sendiri, melakukan banyak hal sendiri sesuai dengan keinginanku sendiri, dan aku pun terbiasa memiliki sesuatu sendiri. Tentang yang terakhir tadi, pada prinsipnya aku senang berbagi. Tapi untuk beberapa hal aku tak ingin membaginya… misalnya berbagi pacar… yah, itu tak perlu terlalu panjang kujelaskan.
Segala kekuranganku aku akui sebagai penyebab ‘kegagalan’-ku untuk menjadi yang terbaik untuknya.
Di sisi lain, aku juga tak terlalu cocok dengan beberapa perlakuannya padaku.
Aku tau peranku sebagai seorang perempuan. Tapi aku pun tidak sepaham dengan beberapa pola ‘stereotyping‘-nya terhadap makhluk bernama wanita. Dia pun bukan yang terbaik untukku.
Aku tidak meyalahkannya.
Setiap orang punya latar belakang yang berbeda2. Pengalaman punya peranan yang luar biasa dalam membentuk karakter seseorang (maaf, aku tidak bermaksud untuk membawa2 ilmu yang kutekuni, tapi inilah kenyataan yang kulihat).
Karakter kami tidak sefrekuensi.
Pola pikir kami tidak cocok.
SUMPAH aku tidak mengada-ngada.
Tidak perlulah pola pikir yang sama, tetapi kalau perbedaan itu terlalu mencolok, sepertinya sulit untuk dipaksakan cocok.
Itulah yang kulakukan.
Aku terlalu memaksakan diri untuk mencocok2an…
Suatu ketika apa yang aku paksakan tadi menjadi benar2 tidak ‘muat’…
The pieces didn’t fit anymore…
Kurasa dia pun merasakannya.
Cinta adalah energi.
Energi itu sepertinya terlalu panas dan mulai berbalik haluan.
Luapan emosi, perkataan yang saling memojokkan, makian, dan air mata sudah sulit untuk dibendung.
Dan pada akhirnya memang tak terbendung.
Aku kembali menjadi diriku: WANITA KERAS KEPALA YANG BERDIRI SENDIRI
Dia pun menjadi dirinya sendiri: LELAKI YANG MEMPERTAHANKAN MASKULINITASNYA
Saat itu tidak ada lagi kecocokan.
Bukan sekedar permasalahan usia menikah. Kurasa sebenarnya aku tak masalah jika harus menikah 2 atau 3 tahun lagi.
Bukan pula permasalahan yang menjadi tren utama di sinetron2. Harta, keturunan, aaahhhh… basi. (kalau mau cari harta instan ya tinggal minta sama orang tua, susah amat)
Ketidakcocokan memang mengandung definisi yang rumit, lebih rumit dari pada kelihatannya…
…
…
…
Dua tahun lalu kami mengakhiri hubungan. Kami berjalan sendiri2 seperti sebelumnya.
Bukan salah dia kami berpisah. Bukan salahku juga kurasa.
Bukan salah dia kami tidak cocok. Bukan salahku juga kurasa.
Kami hanyalah 2 pribadi yang bertemu di saat yang tidak tepat.
Frekuensi yang tidak sama hanya membuat kami sering berselisih.
Tapi hal terbaik yang kupahami, adalah Tuhan tidak memaksakan manusia untuk memilih jalan tertentu. Tuhan memberi pilihan. Hanya saja manusia seringkali memaksakan diri untuk memilih satu dari pilihan2 yang ada tanpa pertimbangan yang matang.
Keputusanku, aku tau itu menyakitkan. Untuknya, untukku apalagi.
Tapi itu konsekuensi yang harus kulewati…
Aku sudah melewati 2 tahun.
Sulit.
Siapa yang dengan kurangajarnya berani bilang itu mudah!!!
Tapi aku bersyukur karna aku sudah berani untuk beranjak dari masa lalu…
…
Bagaimana denganmu…?

sama aku aja ya cintakuw…
mwamwamwamwamwah…
Syapa kamuh??? Huuuuuuuuhhhh…
sama akyuuuu ajaaaa….
hahahahahahhaah…XD
“Tapi hal terbaik yang kupahami, adalah Tuhan tidak memaksakan manusia untuk memilih jalan tertentu. Tuhan memberi pilihan. Hanya saja manusia seringkali memaksakan diri untuk memilih satu dari pilihan2 yang ada tanpa pertimbangan yang matang.”
*touching widz*
waw…
qq likes this
What did it touch??? :p
huuuh kirain putus,
ternyata ada kata kata “dua tahun lalu”
jiaaah aku tertipu!
Hahahaaaa… ini bukan sinetron mbak,,
bagaimana denganku??
aku tetap cantik dan baik hati.. emmmuuuaaaccchhh… :*
ahahahah..
Okay, queen of kerotia…